Perjalanan hijrah (3)
Iya benar setiap saat adalah perbaikan, dua tahun yang lalu sangat tidak menyangka bisa menginjakkan kaki di bumi padjadjaran ini. Bahkan dalam list perguruan tinggi, nama unpad tak pernah terlintas. Hanya ui ugm dan itb, tapi lihat lah lagi lagi ini adalah skenario Allah. Masuk tahun pertama, sedih karena memang jurusan farmasi ini bukan passion, kenal saja tidak. Kalo orang bilang ini salah pilih jurusan aku akan berkata ini sebuah jebakan. Entahlah. Ya sudah masuk sudak dibiayai apalagi, kita tinggal menjalaninya dengan baik dapatkan ilmu raih semaksimal mungkin. Karena tekad sebelum kuliah itu ada sebuah kalimat dalam hati "intan harus berubah", dan masih belum tau arah perubahannya kemana. Entah apa yang menggerakkan hati ini dan entah siapa (yang jelas Allah) bulan pertama di nangor masih sama, keluar malem, jilbab pendek, pake jeans, dan lainnya lah. Ini lah yang aku temukan di farmasi, bersyukur karena selama mabim wajib pakai rok ya saat itu dengan terpaksa setiap hari pake rok. Melihat lingkungan farmasi yang menyejukkan hati, banyak senior-senior akhwat berjilbab panjang, sangat memperhatikan batasan aurat perempuan. Itu membuatku tergetar, ingin rasanya seperti itu dan entah kapan. Karena mama tidak pernah menyuruhku untuk seperti itu tapi yang aku ingat saat akan memasuki kuliah, mama bilang "mama mah seneng ngeliat mahasiswi pake rok jilbab panjang pake kaos kaki, terus bawa ransel gitu tan, kaya mahasiswa banget", ya dia tak pernah memaksaku tapi dari setiap perkataannya itu bagaimana aku harus peka. Beberapa minggu kemudian, aku berusaha mencoba. Ini tidak mudah, aku banyak sekali bertanya kepada orang-orang yang meamang sudah syar'i pakaiannya. Pertanyaan yang sangat aneh "kenapa sih pake jilbab paris haru double?", itu aku tanyakan ke beberapa orang seprti irma, azizah, dan teteh2 senior. Salah satu jawabannya yaitu fungsi jilbab itu untuk apa, menutupi rambut kita yang merupakan aurat kan nah percuma dong kalo itu tetap nerawang sama aja keliatan. Jleb. Aku pun banyak diberi pinjaman buku seputar hijrah ke pakaian syar'i. Saat itu aku tak langsung berubah, banyak proses setelahnya aku menceritakan semuanya ke mama, akupun diminta mama untuk istikhoroh kalo masih bingung, akhirnya suatu hari aku mencoba itu. Dan ternyata memang nyaman, merasa terlindungi. Mama juga bilang biar gak plin plan kasih semua celana jeans kamu ke orang yang butuh biar gak dipake pake lagi. Fix saat itu intan gak punya satupun celana jeans yang ngetat2 itu hehehe. Tapi setelah perubahan pakaian, sikapku belum berubah total sih masih salaman lah sama cowo taboktabokan lah keluar malem intinya masih belum menjaga interaksi. Lagi-lagi ini skenario Allah intan ke toko buku terus tertarik sama bukunya felix siaw yang judulnya yuk berjilbab. Ya disitu dijelaskan intinya seiring perubahan pakaian sikappun harus berubah. Jangan sampai kualitas tak sesuai identitas. Ya langsunglah berusaha berubah perbaikan lagi mencoba menjaga diri tak terlalu melebur tetap ada jarak dengab lawan jenis, semua interaksi dikurangi. Sampai saat ini ya itu masih dalam tahap perbaikan terus menerus karena semakin kita melakukan perbaikan semakin kita merasa masih banyak yang kuramg masih banyak yang perlu diperbaiki. Skenario Allah aku dipertemukan dengan sahabat2 yang insyaAllah selalu saling mengingatkan dalam kebaikan. Karena jalan dakwah ini terasa berat jika kita memikulnya seorang diri. Hidup ini pun bagian dari amanah dari Allah.
Ya Allah aku mencintaiMu.