Sma masa paling tak terlupakan,.itulah yang bisa saya dengar dari orang orang :) memang benar saya merasakannya. Setelah menirima beasiswa saya ditempatkan di sma boarding school yang cukup (r: sangat) mahal. Yaa seperti pesantren modern. Saya adalah perempuan yang belum berjilbab waktu itu dan harus masuk sekolah islam otomatis mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus berjilbab. Ada unsur terpaksa dihati saya. Bahkan awal masuk ketika pulang ke rumah saya melepas jilbab saya (istigfar). Tapi ditempat ini lah sekolah dengan peraturan yang amat ribet, terpencil, elite, saya menemukan sebuah keluarga, ya keluarga. Mereka adalah volkstare teman seangkatan saya. Mereka adalah sang inspirasi, keren, kece, pokonya the best. Di sma saya adalah orang yang apatis, tidak mau tau tentang organisasi, bangsa, atau apapun lah. Kegitan saya hanya main, main, main. Say senang olah raga. Hampir setiap sore say jogging, atau main basket. Tak ada yang namanya organisasi. Apatis. Gak peduli lingkungan. Egois. Saya juga sangat berbaur dengan lawan jenis, gak ada batas, salaman ya salaman aja, ngobrol ya ngobrol aja. Padahal saya mengerti. Tiga tahun saya disana sebuah sekolah berasrama penuh duka, suka, cinta. Kangen itulah satu kata yang menggambarkan suasana hati say terhadap volkstare. Kita gak akan selalu bersama, selalu ada perpisahan bila ada pertemuan. Saat tiba teman teman sibuk memilih ptn saya belum tau mau kemana berlanjutnya perjalanan hidup saya ini. Saya sangat ingin masuk teknik industri itb, tapi saya cukup tau diri. Akhirnya konsultasi dengan guru bk di hari terakhir pendaftaran snmptn. Guru bk saya secara tibatiba menyarankn masuk unpad. Farmasi. Bingung akhirnya tanpa pikir panjang saya memilih itu. Doa saya agak aneh ketika menjelang pengumuman snmptn, saya berharap tidak masuk. Saya ingin berjuang di ujian tulis untuk masuk itb. Lagi dan lagi ini skenario Allah aku mencintaiMu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar